Suka-Duka Pengalaman Hidup

BEBERAPA hari yang lalu secara kebetulan saya menggunakan Kereta Api Argo Parahiyangan menuju Bandung, setelah puluhan tahun tidak menggunakan kereta api ini. Tak terasa, melayang pikiran kami ke 45 tahun yang lalu.

Kalau dihitung hitung sejak persiapan tes masuk, masa kuliah, hingga lulus, sejak tahun 1969  hingga 1974 , saya tidak kurang dari tiga ratus kali pergi-pulang atau 600 kali perjalanan dengan kereta api ini. Karena, hampir setiap Minggu, saya pulang ke Jakarta. Maklumlah, karena anak laki tertua dan hanya memiliki satu adik perempuan, Ibu selalu menunggu nunggu kehadiran saya. Demikian pula dengan Ayah, karena ada beberapa usahanya yang terkadang hanya bisa dipercayakan kepada saya.

Dalam perjalanan hampir selalu bersama kawan-kawan dan laki-laki semua. Maklumlah, anak-anak Institut Teknologi Bandung (ITB) dari kampus sebelah barat, kering dengan mahasiswi. Ndilalah, 600 kali naik kereta itu tidak sekalipun pernah dapat kenalan mahasiswi, apakah itu mahasiswi ITB ataupun dari Universitas Padjadjaran, apalagi untuk dapat teman duduk bersebelahan.

Masih kental betul ingatan saya, tiap kali naik kereta, apalagi kalau dari Jakarta (kantong masih tebal baru dikasih duit sama Nyokap), pasti makan di restorasi kereta api. Pilihan memang hanya dua: nasi goreng atau bistik alias beef steak. Tapi, bukan steak seperti sekarang—australian beef, US prime, wagyu, atau bahkan kobe beef—ini adalah daging empal yang digebukin dulu dengan palu kayu dan mungkin dibungkus daun pepaya supaya empuk. Itu pun saya dan kawan-kawan masih berpikir karena harga bistik lebih mahal daripada nasi goreng, sedangkan duit mahasiswa indekos kan harus cukup untuk waktu yang lumayan panjang.

Nasi goreng saat itu rasanya nikmat benar. Yang tidak terlupakan adalah kerupuk udangnya yang besar seukuran kipas, sehingga bisa dipakai buat ngipas kalau lagi kepanasan, karena kereta api saat itu belum pakai penyejuk.

Kembali ke perjalanan kemarin. Jakarta-Bandung ditempuh dalam waktu  tiga jam dan empat puluh menit. Aneh, memang, tahun 1969 dulu bisa hanya dua jam dan tiga puluh menit. Bahkan, kalau kita naik yang jam 05.00 pagi, waktu tempuh dari Stasiun Bandung hingga Stasiun Jatinegara hanya satu jam-lima puluh menit. Walau sudah cepat begitu, masih saja saya dan kawan-kawan berpikir bagaimana supaya waktu tempuh ini bisa lebih pendek.

Dasar mahasiswa teknik yang baru masuk, layaknya sudah seperti insinyur saja, kami mencoba mengupas bagaimana mempercepat waktu tempuh kereta api. Hasilnya adalah sebagai beriku.

Jatinegara-Cikampek saat itu, kata masinis, kecepatannya hanya boleh maksimal 80 kilometer per jam. Padahal, kemampuannya bisa sampai 120 kilometer per jam. Waktu masinis ditanya kenapa, jawabannya: karena antrean atau frekuensi terlalu padat, sehingga kalau dipercepat tetap harus menunggu di stasiun, karena ada crossing dengan kereta yang di depannya.

Kesimpulan kami saat itu: tambah trek Jakarta-Cikampek dari dua menjadi tiga atau empat. Dengan demikian, waktu tempuh yang sebelumnya 60 menit bisa menjadi 35 menit saja.

Selanjutnya, trek Cikampek-Purwakarta ditambah saja menjadi dua trek, sehingga kereta tidak perlu menunggu giliran di Stasiun Purwakarta, yang bisa 5-10 menit.

Kemudian, dari Purwakarta saat ke Padalarang, ketika kereta api hanya bisa berkecepatan 40-50 kilometer per jam karena harus meliuk-liuk di lereng-lereng bukit, treknya diluruskan saja dengan membuat jembatan-jembatan—sebagaimana Jalan Tol Cipularang sekarang.  Total perjalanan dan waktu tempuh bisa dikurangi menjadi 1 jam dan 30 menit, bahkan bisa sampai 1 jam 20 menit saja. Wah, senang sekali senadainya terwujud.

Mimpi itu sirna tatkala saya dan kawan-kawan lulus, melanglang buana, dan ada yang seperti saya, puluhan tahun tidak menggunakan lagi Kereta Api Parahiyangan.

Nah, sekarang akan dibangun kereta cepat Jakarta-Bandung, dengan waktu tempuh rencananya kurang dari satu jam atau hanya 43 menit. Sebagai mahasiswa tentu senang sekali, hitung-hitung masih berkereta api di Jabodetabek saja—bisa tinggal di Jakarta dan kuliah di Bandung, mengurangi biaya indekos. Tapi, apakah harganya bisa semurah kereta api reguler?

Sekarang, setelah 40 berkiprah langsung di tengah masyarakat, kami sudah berpikir bahwa kecepatan bukan segala-galanya. Namun, kesejahteraan dan keadilan menjadi suatu pertimbangan yang tidak dapat dinafikan. Bila pembangunan kereta api cepat yang sangat mahal dengan tiket yang lebih mahal, kenapa tidak dipakai pikiran anak-anak muda tadi, harga konstruksi bisa dikurangi hingga  tiga puluh

persen saja dan sisa dana dapat dipakai untuk menambah dan memperbaiki trek dari Bandung ke Purwokerto. Kalau juga masih ada sisanya, dari Purwokerto bisa terus hingga ke Solo dan Surabaya. Dengan jumlah dana yang sama, kecepatan kereta api kita sekarang sebetulnya mampu hingga 150 kilometer per jam, namun karena rel yang sudah tua, frekuensi yang sangat tinggi, dan banyaknya trek tunggal tidak mungkin untuk mengoptimumkan kecepatannya. Maka, kalau trek diperbaiki dan ditambah, tidak mustahil bisa mencapai kecepatan 100-120 kilometer per jam. Seluruh masyarakat bisa menikmati kecepatan ini, dengan harga yang tidak terlalu mahal.

Namun, apa pun, pembangunan kereta api cepat versi Presiden Joko Widodo menggembirakan buat kami. Setidaknya membuat bangsa ini tidak terlalu ketinggalan zaman. Akan lebih bagus lagi kalau bukan hanya Jakarta sampai Bandung, namun jauh hingga ke Banyuwangi di ujung timur sana.

Hanya saja, di usia yang sudah oversix ini, apakah saya masih sempat merasakan kereta api cepat itu? Dan pilihan mana yang lebih benar, membuat “Shinkanzen” Indonesia atau snell spoor yang ada? Wallahualam bissawab. []