Nefos dan Indonesia Hari Ini

SEJAK tahun 1920-an hingga 1930-an, Soekarno muda selalu berpikir bahwa bangsanya menjadi bodoh dan miskin karena adanya penjajahan, sebagai anak dari kapitalisme. Semakin lama, ia pun semakin berkeyakinan: ada sistem yang menjerat bangsa ini sehingga tidak bisa keluar dari kekejaman itu, suatu sistem yang sangat kuat dan sudah berakar dalam masyarakat indonesia.

Kunci untuk mengubah situasi dan kondisi tersebut, menurut Bung Karno, tidak lain adalah kemerdekaan. Soekarno pun berpikir bagaimana caranya bangsa ini dapat merdeka, padahal bangsa kita telah beberapa kali berperang melawan imperialisme Belanda dan selalu gagal. Akhirnya, ia menemukan jawabannya: persatuan.

Perjuangan dan perjalanan panjang para perintis kemerdekaan akhirnya membawa kita sampai pada gerbang kemerdekaan. Namun, kita merdeka hanya de jure.

Baru lima tahun kemudian, kita merdeka juga secara de facto. Mengapa bisa demikian? Ini terjadi karena pihak kolonial dengan kekuatan militer, ekonomi, dan politiknya masih memegang kedaulatan kita.

Di sini terasa betapa pentingnya kedaulatan bagi suatu negara dan bangsa. Pada tingkat yang paling kasar, negara tanpa kedaulatan—ketika kekuasaan politik, ekonomi, sosial, dan militer dikuasai oleh bangsa lain—inilah yang dimaksud dengan koloni, ketika pemerintahan pun dipegang oleh bangsa asing.

Pada tingkat yang lebih halus, pemerintahan dipegang oleh bangsa yang sudah merdeka, namun kedaulatan politik, ekonomi, sosial, dan militer diatur oleh bangsa asing.

Yang terkini: kedaulatan ekonomi, politik, sosial, dan militer dikuasai oleh bangsa itu, namun segala kebijakannya sangat dipengaruihi, bahkan ditekan, oleh bangsa asing, sehingga tergadaikanlah kedaulatan negara tersebut. Inilah yang oleh Bung Karno dulu disebut sebagai sistem neo-kolonialisme-imperialisme atau Nekolim.

Bangsa-bangsa eks penjajah tidak rela kekayaan negara-negara baru itu dikuasai oleh negara-negara baru tadi. Kekayaan sumber daya alam negara-negara baru tersebut—yang sudah ratusan tahun dijarah penjajah—tidak ingin dilepaskan oleh negara-negara lama itu. Segala macam cara pun dilakukan.

Contohnya di Indonesia. Periode tahun 1945 sampai 1949, negara kita dikacaukan oleh Perang Kemerdekaan. Tahun 1950 sampai 1955, negara kita diusik oleh pemberontakan, mulai dari Angkatan Perang Ratu Adil yang dipimpin Westerling,DaruI Islam-Tentara Islam Indonesia oleh Kartosoewirjo dan Kahar Muzakkar, dan Republik Maluku Selatan oleh Dr. Soumokil. Yang terakhir adalah Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Pejuangan Rakyat Semesta tahun 1957-1959, yang Amerika Serikat sudah mengirimkan Armada Ketujuh-nya.

Sejak tahun 1959 dan kembalinya kita ke UUD 1945 berangsur-angsur kedaulatan kita pegang penuh dan sangat nyata hasilnya: Irian Barat kembali kepada kita. Sebagai negara baru yang belum kaya, kita juga mampu membuat  Konferesi Asia-Afrika. Dan melihat keberhasilan Indonesia, berturut-turut negara-negara di Asia dan Afrika banyak yang ikut memerdekakan dirinya.

Maka, paniklah negara-negara eks penjajah itu. Mereka pun semakin nekat mengganggu kedaulatan negara-negara yang baru merdeka tersebut. Mereka adalah negara-negara tua yang telah kenyang menjarah harta negara-negara terjajah dan tidak mau kehilangan jarahannya. Negara-negara tua ini ingin mempertahankan establishment-nya atau ingin tetap status quo. Soekarno menyebut mereka sebagai Oldefos, akronim dari Old Established Forces.

Dari pengalamannya sejak tahun 1920-an, Soekarno memahami, untuk melawan penjajah mutlak diperlukan adanya persatuan. Karena itu, untuk melawan Oldefos, negara-negara yang baru merdeka dengan kekuatan-kekuatan barunya juga harus bersatu. Soekarno pun menggalang negara-negara baru untuk bersatu dalam New Emerging Forces atau Nefos. Dengan Nefos, Bung Karno ingin menciptakan suatu dunia baru, membentuk suatu persahabatan dunia baru, tanpa exploitation de nation par nation, exploitation de l’homme par l’homme.

Selain itu, Soekarno bercita-cita, kalau Nefos terbentuk, negara-negara baru yang bernaung di bawahnya akan bisa saling membantu untuk segala kegiatan politik, keamanan terutama, dan ekonomi. Juga menjadi kekuatan yang sangat besar sehingga sulit bagi Oldefos untuk mengganggu negara-negara Nefos.

Dunia pun akan masuk ke suatu sistem koeksistensi damai, seperti pidato Bung Karno di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1964, yang bertajuk “To Build the World A New”.

Disiapkan dan dicanangkanlah Conference of New Emerging Force (Conefo) pada tahun 1965. Markas Conefo pun dibuat di Jakarta, di Senayan—yang diserobot menjadi Gedung MPR/DPR sekarang.

Tapi, rupanya kali ini ini Nekolim berhasil. Muncullah Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Soekarno pun jatuh. Conefo serta negara Nefos tinggallah kenangan.

Pertanyaannya untuk kita semua para pewaris NKRI, Pancasila, dan ajaran-ajaran Soekarno, apakah ide besar yang masih relevan itu akan kita biarkan serta kita kubur untuk sekadar menjadi kenangan?  Sesungguhnya saat inilah sebaik-baiknya momen untuk mengingatkan kita semua serta menyegarkan kembali ide besar tersebut.

Bisa dimulai dari focus group discussion, seminar-seminar,  akhirnya mengundang pihak internasional. Belum perlu sampai tinggkat summit, mungkin cukup dengan mengundang organisasi-organisasi kepemudaan dari negara-negara Nefos. Bisa juga wartawan-wartawan dari negara-negara Nefos, sebagaimana kita tahun 1963  dulu pernah menyelenggarakan  Konferensi Wartawan Asia Afrika. []