Jangan Takut Resesi

Banyak pengamat ekonomi meramalkan kita di jurang resesi. Berdasar angka-angka ekonomi makro baikyang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memang menunjukkan ekonomi kita sedang tertatih berjuang melawan pandemi Covid-19.

Tapi Indonesia  berbeda dengan negera-negara maju seperti Singapura, Jepang, atau negara-negara Eropa. Negeri kita negeri yang kaya dan subur. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, kalau mengutip lagu Koes Plus. Sesusah-susahnya, kita menanam batang singkong masih bisa makan.

Kalau kita lihat pada tahun 1997-1998, Indonesia juga terpuruk karena krisis ekonomi, dan kalangan konglomerasi terpukul parah. Tapi di kalangan menengah ke bawah, tetap saja hidup.

Jadi tidak perlu terlalu takut pada resesi, pada hitung-hitungan pertumbuhan ekonomi versi IMF, World Bank, dan sejenisnya. Karena sumber pertumbuhan kita itu banyak sekali, ekonomi bawah tanah (underground) Indonesia itu banyak sekali. Jumlah usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia begitu banyak bahkan secara ekstrim bisa dikatakan mungkin hampir sebanyak jumlah penduduk usia dewasa di Indonesia.

Negeri ini masih bisa memberikan penghasilan pada rakyatnya. Bahkan yang tidak bekerjapun masih bisa makan.

Tapi resesi memang tetap harus diwaspadai. Tapi jangan terlalu takut dan khawatir dan lalu fobia. Negeri ini memilik kelenturan yang sangat tinggi dalam bidang ekonomi. Sesusah apapun kita masih tetap hidup.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indarwati dalam beberapa kesempatan belakangan ini sering mengatakan Indonesia di ambang resesi tapi beliau juga memberikan formula agar resesi bisa disingkirkan.

Menkeu berhak dan wajar wanti-wanti soal ancaman resesi, dan ia berkewajiban mewanti-wanti soal ancaman itu. Tapi sekali lagi kita tak perlu ketakutan. Kita pernah mengalami masalah besar yang sama pada akhir 1990-an, akhir-akhir Orde Baru, dengan banyak nama hebat yang menjabat sebagai Menkeu.

Saya saat menjadi anggota parlemen lebih banyak berkecimpung di komisi keuangan atau komisi anggaran. Sejak saat itu saya tahu bahwa anggaran belanja dan pendapatan negara (APBN) kita itu masih agak boros. Mohon maaf, dari anggaran yang ada kita sebetulnya masih membangun lebih banyak lagi sekitar 30 persen. Pengeluaran di belanja barang dan pegawai kadang berlebih-lebihan, dan pengeluaran di belanja modal kerapkali juga tidak efisien.

Untuk melawan resesi sebenarnya gampang saja, lakukan efisiensi di belanja barang, pegawai, dan modal. Kita tak perlu takut memperbesar belanja modal, karena nanti kembali lagi kalau barangnya jadi, tapi usahakan sebanyak mungkin melibatkan UKM. Misalnya membangun jalan tol jangan hanya melibatkan perusahaan besar atau BUMN saja. Usahakan melibatkan UKM, misal untuk belanja beton atau baja atau pengecatan lampu tiang listrik marka jalan dan sebagainya. Sebanyak mungkin melibatkan pengusaha-pengusaha menengah ke bawah. Belanja modal sebaiknya memberikan efek kepada pengusaha kecil. Pengusaha besar biarlah dapat yang besar-besar saja seperti baja dan lain-lain.

Menghadapi pertumbuhan ekonomi yang cenderung menurun kuncinya adalah harus ada belanja domestik yang bagus. Belanja domestik dari pangan, papan, hiburan, pakaian, dan seterusnya dari penduduk Indonesia yang kini berjumlah sekitar 260 juta itulah yang menghidupkan ekonomi.

Belanja domestik memang terpengaruh keadaan yang sedang terjadi, dalam masa Covid-19 ini tentu saja belanja domestik goyah. Itu bisa diatasi pemerintah, seperti yang sudah dilakukan, yaitu berkorban mengeluarkan dana negara, dengan cara menyalurkan bantuablangsung tunai (BLT) atau bantuan sosial (bansos).

Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional asalkan tidak salah mengerti apa yang harus dilakukan pasti sangat dibutuhkan negeri kita di masa bencana ini.

Terakhir saya ketahui belanja modal untuk Covid-19 sebesar sekitar 150 triliun, tapi Presiden Jokowi marah karena baru tersalur 20 persen. Tapi apapun upaya pemerintah ini harus dihargai.

Ketua Satgas PEN, Budi Sadikin, awalnya adalah seorang bankir. Kita kenal nama beliau sewaktu akuisisi Freeport. Akuisisi itu lebih untuk harga diri bangsa. Sudah jelaslah selama ini kita banyak dirugikan oleh perusahaan itu. Hasil Freeport itu tidak hanya tembaga tapi ada perak, emas, dan entah apalagi. Dan selama puluhan tahun kita dikelabui perusahaan asing itu.

Akuisisi itu adalah keberanian Jokowi. Tapi di lain pihak kita jadi terjebak dalam cashflow yang seret, karena banyak uang yang harus ditanamkan di sana. Jer basuki mowo beo, supaya sejahtera kita harus berkorban. Yang penting setelah kita kuasai perusahaannya, jangan sampai kinerja perusahaan itu malah melorot.

Jangan sampai terulang kasus lapangan minyak yang diambilalih Pertamina dan Pemerintah Daerah, kok malah melorot. Apa yang terjadi? Apakah karena kita belum bisa menjalankan ekplorasi lapangan minyak atau apa? Seharusnya kita bisa.

Kita ingat Budi juga yang mengakuisisi Inalum, tapi entah mengapa perusahaan ini belakangan agak melorot.

Sebenarnya pandemi Covid-19 ini lebih mengerikan dari krisis ekonomi 1997-an dulu.

Pedagang makanan misalnya sekarang merosot walau kini mulai membaik. Budi bankir yang baik, tapi ingat yang bisa mengatasi krisis 1997-1998 adalah UKM. Kita tetap hidup kita tetap jalan karena mereka.